KEADAAN DAN ANCAMAN ALLAH TERHADAP ORANG MUNAFIQ

Allah menyebutkan keadaan orang munafiq di hari pembalasan yaitu pada surat Al-Hadid ayat 14.

Orang-orang munafiq itu memanggil mereka (orang-orang mukmin) seraya berkata: “Bukankah kami dahulu bersama-sama dengan kamu?” Mereka menjawab: “Benar, tetapi kamu mencelakakan dirimu sendiri dan menunggu (kehancuran kami) dan kamu ragu-ragu serta ditipu oleh angan-angan kosong sehingga datanglah ketetapan Allah; dan kamu telah ditipu terhadap Allah oleh (setan) yang amat penipu (QS Al-Hadid : 14)

Keadaan orang munafiq itu di dalam hatinya ada penyakit, dan Allah akan menambah penyakitnya itu. Allah juga mengancam dengan siksa yang pedih karena orang-orang munafiq itu berdusta.

Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta. (QS Al-Baqarah : 10)

Orang munafiq itu diberi keleluasaan oleh Allah dalam kesesatannya yang telah dikuasainya itu. Dibiarkan semakin tenggelam dalam kesesatannya. Mereka lupa bahwa mereka tidak hanya hidup di dunia saja. Mereka lupa akan adanya hari akhir, hari pembalasan. Padahal ancaman Allah sudah jelas, yakni barang siapa yang menentang Rasul, setelah mendapatkan dakwah atau setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti jalan selain jalan orang-orang mukmin, Allah akan memasukkan orang-orang munafiq itu ke dalam Neraka Jahannam.

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasinya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS An-Nisa : 115)

Orang-orang munafiq berada dalam kesesatan, mereka buta dan bingung, tidak mendapat jalan keluar. Sebabnya adalah karena Allah telah menutup hati, telinga dan mata penglihatan mereka kabur, mereka tidak mendapatkan petunjuk. Allah membiarkan mereka terombang-ambing dalam kesesatan mereka.

Mereka telah keluar dari petunjuk hidayah dan menuju kepada kesesatan, dari jama’ah muslimin menuju kepada perpecahan, dari keamanan menuju kepada ketakutan. Dari sunnah Rasul menuju kepada bid’ah-bid’ah yang berlawanan dengan ajaran Rasulullah. Yang demikian itu karena mereka telah beriman kemudian menjadi kafir, maka tertutuplah hati mereka.

Mereka itulah orang yang membeli kesesatan dengan petunjuk, maka tidaklah beruntung perniagaan mereka dan tidaklah mereka mendapat petunjuk. (QS Al-Baqarah : 16)

Contoh perumpamaan ini seperti ketika mereka telah memilih kesesatan sesudah ia mengenal petunjuk hidayah, sehingga buta setelah ia melihat. Bagaikan orang yang menyalakan api maka ketika terang, apa yang ada di sekitarnya tampak nyata dan dapat mempergunakan apa yang dapat dilihat di kanan dan kirinya. Tiba-tiba padamlah api itu dan ia berada dalam keadaan gelap gulita, sehingga tidak dapat melihat apa-apa, bahkan ia menjadi tuli, bisu dan buta. Andaikan ada penerangan lagi sudah tidak dapat melihat lagi, karena ia tak mungkin dapat kembali sebagaimana sedia kala ketika masih beriman.

Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api, maka setelah api itu menerangi sekelilingnya Allah hilangkan cahaya (yang menyinari) mereka, dan membiarkan mereka dalam kegelapan, tidak dapat melihat.

Mereka tuli, bisu dan buta, maka tidaklah mereka akan kembali (ke jalan yang benar) (QS Al-Baqarah : 17-18)

Ayat ini menunjukkan bahwa mereka tadinya beriman, kemudian ingkar dan kafir.

Ar-Razi berkata, contoh perumpamaan ini sangat tepat, sebab mereka pada mulanya mendapatkan nur iman, kemudian dibatalkan dengan keraguan nifaqnya, sehingga menjadi bingung karena kehilangan pegangan agama. Yang tadinya ia mengenal halal-haram, baik-buruk, sunnah-bid’ah, kemudian ia ragu dan kembali ke dalam kegelapan karena bingung.

Di dalam Al Qur’an cukup dijelaskan kesemuanya itu, adakalanya disertai ancaman terhadap orang-orang kafir dan munafiq, dan ada kalanya berupa panggilan supaya segera bertaubat kembali kepada tuntunan agama allah untuk diampuni dan diberi rahmat.

Ada kalanya penerangan hak yang dibawakan oleh Al Qur’an menerangi hati mereka sehingga mereka ikuti, tetapi kemudian oleh kepentingan tiba-tiba seperti harta, kedudukan, beasiswa, jabatan serta hawa nafsu, mereka jadi bingung, sebab hati mereka menjadi gelap dan terpaksa mereka berhenti.

Sesungguhnya orang-orang yang beriman kemudian kafir, kemudian beriman (pula), kemudian kafir lagi, kemudian bertambah kekafirannya, maka sekali-kali Allah tidak akan memberi ampunan kepada mereka, dan tidak (pula) menunjuki mereka kepada jalan yang lurus. (QS An-Nisa : 137)

Allah menganggap orang munafiq yang bergabung dengan orang kafir yang kemudian bersama-sama mengingkari dan mengolok-olok ayat-ayat Al Qur’an, sebagai serupa dengan orang kafir. Dan Allah mengancam akan mengumpulkan orang-orang munafiq itu dan orang-orang kafir didalam neraka Jahannam.

  1. Leave a comment

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: